Langsung ke konten utama

Rahasia Gunung Semeru


Part VII

Pria itu menerima gulungan kain dengan hormat, dia juga membungkukkan badannya saat menerima gulungan itu dan perlahan membukanya. Sesaat pria itu melihat Sans dan menarik nafas panjang sebelum mulai membaca dia berkata, "Ini peninggalan Empu Bameswara Tirtayasa  ditulis pada masa Khadiri. Tulisan ini memakai Bahasa Jawa Kuno dengan huruf Kuadrat." tentu saja Tuan sudah lupa.

"Lupa?" tanya Sans tidak mengerti.

"Kala itu, Tuan adalah panglima kami, junjungan kami, panutan kami, juga pengayom kami," jelas pria itu.
"Thihita Ka Rana. Itu selalu Tuan ajarkan pada kami," lanjutnya.

Dahi Sans mengernyit, dia sama sekali tidak mengerti. Namun, dia menunggu penjelasan pria itu.

"Sikap hidup yang seimbang antara memuja Tuhan dengan mengapdi pada sesama manusia serta mengembangkan kasih sayang pada alam dan lingkungan. Jadi selain hidup rukun dengan sesama manusia, masyarakat juga diajarkan rukun dengan alam," itu yang selalu Tuan sampaikan dan kami selalu mematuhinya. Kami bahkan hingga saat ini dan detik ini masih selalu menjaga Semeru, menjaga rahasianya, juga menjaga manusia yang hidup di lereng Semeru.

"Apa Tuan tahu? bukan hanya orang-orang Sumbermujur saja yang selalu menjaga alam dan tradisi-tradisinya, akan tetapi Ranu Pane pun juga senantiasa mengadakan persembahan buat Semeru. Dengan hasil bumi melimpah kedua desa itu selalu memegang teguh ajaran Tuan.

Sans tertegun, dia ingat cerita neneknya sewaktu masih kecil bahwa kita ini adalah titisan leluhur yang entah dari mana, "Apakah benar aku titisan salah satu Panglima Majapahit?" gumamnya. Seketika dia ingat ikan mas yang dipanggil Putri oleh Mbah Dipo.

"Tadi aku lihat ikan mas di Danau Ranu Kumbolo yang dipanggi Putri, siapakah dia?" tanya Sans.

"Oh! dia. Putri Ranu Kuning. Apa tuan lupa? Dia Dewi penjaga danau itu. Hanya saja saat ini baru bisa Tuan jumpai dalam wujud ikan." jelas pria itu.

"Lalu! Siapa Bapak?" tanya Sans.

Mendengar pertanyaan Sans, pria kekar itu tersenyum. Saya prajurit Nam, Tuan.

Sesaat suasana hening, kemudian Sans bertanya," Suara berisik dari selatan itu, suara apa? Kenapa bahaya? Senjatamu berlumuran darah! Habis membunuh orang?" rasa penasaran membuat Sans memberi berondongan pertanyaan.

"Kami sedang berburu, Tuan. Kijang salah satu bahan makanan kami. Jika Tuan bertemu prajurit yang di selatan, Tuan tidak bisa lagi bisa pulang," jawab Prajurit Nam.

"Pulang?" seketika Sans teringat, bahwa dia telah lama meninggalkan teman-temannya di Desa Sumbermujur. "Mana Mbah Dipo?" tanyanya.

"Mbah Dipo hanya menjemput Tuan, selebihnya Tuan harus mencari sendiri jalan untuk pulang," jawab Prajurit Nam.

"Bagaimana caranya? Sedangkan jalan setapak yang tadi sudah hilang,"

"Gunakan mata batin! Tuan sangat mencintai alam dan terlebih Semeru. Pasti Tuan akan mendapat pertolongan," jawab Prajurit itu meyakinkan Sans.

Sans berfikir bagaimana  dia bisa kembali ke desa yang letaknya di sebelah mana, dia tidak tahu. Sans mengedarkan pandangan, kembali dia mendengar suara gaduh dan desingan senjata tajam beradu. Dia menoleh ke arah Prajurit Nam dan bertanya, "Bolehkah aku melihat mereka?"

"Meraka sedang berlatih, Tuan. Lebih baik Tuan segera kembali!"

"Kambali! Kembali!  Dari tadi nyuruh kembali tapi tidak menunjukkan jalan!" kata Sans dengan ketus. Dia sangat kesal. Meski kemudian dia menyesal juga merasa takut setelah menerima tatapan tajam dari Prajurit Nam. Sans menunduk sambil menggigit bibir bawah, sementara tangannya menggaruk kepala meski tidak gatal.

Suasana hening, dari dua orang itu, tidak ada yang memulai percakapan. Tiba-tiba kembali terdengar desingan benda tajam beradu dan kali ini terdengar cukup dekat.

Sans terlonjak saat mengetahui beberapa orang berpakaian prajurit mendekat dan mengacungkan pedang, seketika Sans panik. Dia berdiri dan berbalik arah dan berlari menjauhi para prajurit itu.

Sans terus berlari tanpa berhenti dan kini dia mendengar suara perempuan mengaji. Lantunan ayat suci Al-Quran dari perempuan yang sangat dihafalnya. Sans berhenti berlari kemudian  melihat ke kanan dan kiri mencari suara itu. Hingga tanpa sadar prajurit yang mengejarnya sudah sangat dekat. Sans ketakutan saat melihat kilauan pedang yang diacungkan prajurit itu.  Dia memejamkan mata dan bersamaan dengan itu terdengar seseorang memanggilnya, 

"Sans!"

"Sans!"

"Sans!"

Sans membuka mata. Seorang perempuan setengah baya sedang mengaji di sisi kanannya dengan deraian air mata. Sans berusaha bangun, tapi dia tidak bisa bergerak dan bersamaan dengan itu datang perempuan berbaju putih. Perempuan itu terlonjak dan berkata, " Alhamdulillah! Masnya sudah siuman, sebentar saya panggil dokter," perempuan berbaju putih bergegas keluar dari ruangan.

Mendengar perkataan perempuan tadi, suara lantuanan ayat suci terhenti, "Alhamdulillah, Le. Kamu sadar, Nak," ucap perempuan itu sambil memeluk dan kembali menangis.

Sans terdiam. Dia masih belum mengerti dengan apa yang terjadi, tapi dia melihat dengan jelas ada seorang pria berdiri di tengah pintu yang sudah ditembus perempuan berbaju putih.

Pria dengan Baju Zirah itu tersenyum kemudian perlahan menghilang.

Tamat.

#Oprec9
#tugaspekan6
#cerbungmisteri
#rahasiagunungsemeru


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rahasia Gunung Semeru

Part VI Sans berjongkok kemudian mengusap kepala salah satu Arca itu lalu berkata lirih, " Arca Arcopodo ." Lama terdiam Sans berfikir di mana dia pernah melihat wajah arca itu karena dia merasa amat  kenal dengan wajah arca itu. Lamunan Sans terhenti saat ada sesuatu bergerak cepat dan melewati. Seperti kayu tapi berkilau dan runcing. Sans terduduk saat terasa ada dorongan keras dari samping kirinya, ketika dia menoleh seorang pria memakai baju tradisional layaknya baju-baju zaman kerajaan. Dengan memakai Baju   Zirah berwarna perak, kain sutra motif kawung melilit di pinggang, sementara  ikat kepala warna keemasaan tampak terpecik warna merah darah. Sans sempat kagum melihat pria gagah di depannya sebelum akhirnya tersadar ada pedang di tangan pria itu.  Pedang itu berlumuran darah, bahkan jemari yang menggenggam pedang  itu juga berlumuran darah. Bau anyir menusuk hidung darah segar itu bahkan masih menetes dari ujung pedang.  Seketika Sans...

Jodohku

Jodohku   Tiga puluh menit  cukup bagiku untuk mempercantik diri,  seperti pemintaan ibu pagi ini aku akan jalan dengan calon suami. Ya aku sudah menerima perjodohan ini, meski  awalnya ragu tapi setelah kupikir-pikir pilihan ibu meski tidak akan salah. Apalagi kami sebenarnya teman sekolah.Sementara bapak hanya setuju saja apa mau ibu. "Sa, ini Hamim sudah datang, cepat keluar!" teriak ibu dari ruang tamu. Mendengar teriakan ibu, aku bergegas keluar dan di ruang tamu tampak Mas Hamim duduk  sambil minum teh buatan ibu. "Sekarang, ya?" tanya Mas Hamim dan tanpa menunggu jawabku dia pun berdiri, "Keburu siang," lanjutnya.  Aku mengikutinya, setelah berpamitan pada ibu tentunya. Sampai di dekat motor, Mas Hamim memakaikan helmku dan mengaitkannya, dia juga memakai helm dan memberi kode  padaku agar langsung naik di jok belakang. Di perjalanan kami tidak saling bicara, meskipun sebenarnya banyak yang ingin aku tanyakan.  Pastinya setelah menikah kami...

Mencari teman

Mencari Teman 16 Dingin Aku kibas air sungai dengan kaki sekencang mungkin sehingga air sungai muncrat kemana-mana. Apa yang kulakukan membuat teman-teman kepuncratan air dan sedikit basah dan melihat itu aku menambah tenaga untuk mengibaskan kaki di air sungai. Baju bagian depan mereka terlihat basah saat aku menghentikan kakiku dan tak lama mereka ikut turun sungai. Maka kami semua bermain air dan saling mengibaskan kaki ke air puncratan air mengenai badan kami.  Baju kami menjadi basah, tetapi kami belum ingin menghentikan kesenangan. Bagi kami bermain air adalah hiburan yang menyenangkan dan juga menyehatkan, iya kan? Di tengah permainan aku berseru pada teman-teman, "Tadi aku lihat ada seruang, lo," mendengar perkataanku, teman-teman menghentikan permainan.   "Ayo, kita cari!" ajak Sulhan sambil membungkukkan badannya, "Kamu lihat di sebelah mana, Dan?" tanya Sulhan sambil melangkah pelan dengan badan masih membungkuk.  "Ayo kita cari, kalau ti...