Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label cermin

Pak Prabu

Pak Prabu Dan Putrinya Di pinggiran hutan Jati yang masih angker, terdapat Desa yang penduduknya masih mempercayai berbagai mitos dan klenik. Mereka tidak berani melanggar adat yang masih di pegang teguh, mereka juga berpantang segala larangan yang berlaku.  Tempatnya yang jauh dari kota membuat Desa itu sejuk, indah banyak tanaman yang sudah langka,  padi di sawah tumbuh subur,  hewan peliharaan pun gemuk-gemuk, karena rumput tumbuh subur di pinggiran hutan.  Desa itu bernama Oro-oro Watu, memiliki Kepala Desa yang bernama Prabu Tapa Agung. Seorang Kepala Desa yang menjabat secara  turun temurun, meskipun sekarang sudah berlaku pemilihan Kepala Desa. Tentu saja tidak seorang pun yang berani mencalonkan diri dalam pemilihan, Prabu Tapa Agung yang saat ini menjabat adalah generasi ke lima dari Kepala Desa sebelumnya. Dia seorang yang berhati dingin, disiplin, tetapi baik terhadap penduduk miskin. Hampir semua peraturan Desa berpihak pada penduduk miskin, salah...

Punggung Itu

PUNGGUNG ITU Di warung sederhana dengan meja dan kursi  panjang  yang di atur saling berhadapan, di iringi musik pop yang tidak asing lagi di telinga. Aku dan kamu duduk berhadapan, di meja telah tersaji nasi rames ciri khas kota tempat tinggalku.  "Maukah, kau menikah denganku?" tanyamu tiba-tiba. Aku terkejut, senang, juga bingung. Bagaimana bisa secepat ini kamu mengatakan hal itu, menikah tidaklah mudah dan banyak yang harus di pertimbangkan. Untuk menutupi kegugupan, aku segera menyendok nasi di piring  yang sudah terhidang di depanku. Pelan aku mengunyah dan tentu sambil menikmati kegalauan. Tatapanmu yang  lekat menyiratkan bahwa kamu menunggu jawaban dariku, tetapi mana bisa aku memutuskan dalam waktu singkat. Akhirnya kami makan dalam diam dan kamu hanya sesekali menatapku. Sampai akhirnya kamu berpamitan padaku untuk meneruskan perjalanan ke kampung halaman. Aku hanya bisa mengantarmu dari sini dengan tatapan mata yang berembun, tidak tahu apa yang ha...

Belanja

PERILAKU WAH DARI PRIA BERPENAMPILAN TIDAK WAH Selama pandemi belanja di warung dekat rumah salah satu kegiatan yang tanpa aku sadari telah memberikan pelajaran hidup. Kemarin aku ceritakan seorang pria muda dengan penampilan yang wah, tetapi berperilaku tidak wah, saat berbelanja.  Maka hari ini aku akan bercerita tentang sikap seorang pria dengan penampilan tidak wah, tetapi berperilaku sangat wah, mau tahu?       *** Balikpapan mempunyai curah hujan yang tinggi, maka tak heran kalau cuaca berubah secara cepat. Seperti  ibu rumah tangga pada umumnya aku mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan kali ini aku membersihkan rumput yang tumbuh subur di lahan kosong sebelah rumah.  Akan tetapi sekitar pukul, 09.00 tiba-tiba hujan turun dengan deras dan hingga sore barulah reda.  Untuk memenuhi kebutuhan dapur walau menjelang magrib aku tetap pergi belanja di warung langganan yang terletak dua kilo meter dari rumah. Jalanan di kampung tempat tinggalku termasuk...

Mencari Teman

Mencari Teman 18 Suara Apa Itu ? Kami semua terdiam saat melihat  kawanan monyet bertengger di pohon lay dan mengeluarkan suara khasnya. Ririn sempat menowel-nowel lenganku tetapi aku tidak menghiraukannya, karena aku sendiri juga takut. Bagaimana kalau monyet-monyet itu menyerang? bagaimana kami melarikan diri kalau monyet-monyet itu mengejar?  Bermacam pertanyaan terus bermunculan di pikiranku dan itu menambah rasa takut, aku melihat Sulhan dan kebetulan ia juga melihatku sambil menggelengkan kepala lalu arah matanya tertuju ke pohon. Aku mengerti dengan kode yang diberikan Sulhan, bahwa ia juga tidak tahu harus bagaimana. Akhirnya kami berempat hanya duduk menunggu saling pandang dan sesekali memperhatikan tingkah monyet di atas dahan pohon lay. Agak lama kami terdiam, saat Irpan terdengar tertawa cekikikan. Kami bertiga menoleh ke Irpan, tetapi ia masih juga tertawa dan kini sambil menunjuk ke arah dahan pohon sebelah kanan kami. Seperti terhipnotis oleh jari Irpan kam...

Mencari teman

Mencari Teman 17 Bertemu Kawanan Monyet Mencari saruang memang tidak mudah apalagi kami mencari dengan terburu-buru, sehingga tidak fokus. Kami memutuskan berhenti mencari saruang meskipun belum mendapat satupun, karena tujuan kami mencari saruang hanya untuk bersenang-senang  sambil menunggu ada burung yang tersangkut di jala kami. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke tempat kami memasang jala.  Kami jalan beriringan sambil bercanda dan saling menggoda, kami juga tidak merasa risih meskipun setengah baju kami basah. Kebiasaan kami memang bermain air dan lumpur, jadi leadaan kami sekarang adalah hal yang biasa. Kami sudah dekat dengan tempat kami memasang jala, saat tiba-tiba Sulhan yang berjalan di depan sendiri berhenti mendadak dan kamipun saling bertubrukan. Kami tertawa bersama karena jatuh dan saling menindih, tetapi aku sedikit kasihan pada Sulhan yang berada di bawah sendiri, ia duduk dengan mengelus lututnya setelah kami semua bangkit dan bergeser agar tidak ...

Kaji Pria Wates

Kaji Pria Wates Wates adalah desa kecil yang jauh dari kota, dikelilingi sawah yang sebagian besar sudah menjadi milik orang kota. Kebanyakan warga hanya menggarap sawah itu dengan sistem bagi hasil. Hanya sebagian kecil warga yang masih memiliki lahan sendiri dan itupun hanya beberapa petak saja. Tak mudah bagi mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup, maka banyak pria yang mencoba peruntungan dengan bekerja di kota, meskipun hanya mengandalkan tenaga. Mereka rela berjauhan dengan keluarga tercinta dan berkumpul hanya dua atau tiga hari dalam sebulan, tetapi itu tidak berlaku bagi Kaji. Pria tiha puluh tahun yang sudah memiliki dua anak itu tetap berpegang teguh dengan prinsipnya. Baginya berkumpul keluarga dengan segala kesederhanaan lebih membahagiakan daripada dia harus berjauhan dengan anak istrinya. Segelas kopi dan sepiring singkong rebus menjadi sarapan pagi ini, sementara kedua anaknya makan  nasi goreng dengan lahap. Nasi kemarin yang hanya cukup untuk sarapan kedua anaknya ...

Anak Hebat

Anak Hebat Ayo, Dani, ...  terus pukul. Dani kamu pasti bisa ... terus jangan kasih ampun. Teriakan-teriakan temanku membuatku lebih semangat memukul wajah Suhan, tak peduli ada cairan merah yang keluar dari sudut bibirnya. Dia sudah tak berdaya terlentang di tanah berumput dan kududuk diperutnya. Apa aku tidak kasihan? tentu saja tidak karena itu salah dia juga, kenapa jambu incaranku dia petik dan langsung dihabiskan.  Hai, perkenalkan namaku La Dani, biasa dipaanggil Dani. Aku anak ke tiga dari empat bersaudara, kakak pertamaku bernama Rianti, dia sudah menikah, kakak keduaku Pone dia sekolah di Pondok Manggar, dan adikku Aysah dia masih umur lima tahun. Oh iya nama bapakku, La Kene sedangkan mamaku bernama Wa Kaiko. Jam segini mereka pergi ke kebun, untuk merawat singkong dan serai yang sudah mereka tanam dengan susah payah. Sebenarnya tadi aku diberi tugas mama untuk jagain adik, tapi  hari ini aku malas jaga adik yang tidak bisa diam itu.sambil mengendap-ngendap ak...

Jodohku

Jodohku   Tiga puluh menit  cukup bagiku untuk mempercantik diri,  seperti pemintaan ibu pagi ini aku akan jalan dengan calon suami. Ya aku sudah menerima perjodohan ini, meski  awalnya ragu tapi setelah kupikir-pikir pilihan ibu meski tidak akan salah. Apalagi kami sebenarnya teman sekolah.Sementara bapak hanya setuju saja apa mau ibu. "Sa, ini Hamim sudah datang, cepat keluar!" teriak ibu dari ruang tamu. Mendengar teriakan ibu, aku bergegas keluar dan di ruang tamu tampak Mas Hamim duduk  sambil minum teh buatan ibu. "Sekarang, ya?" tanya Mas Hamim dan tanpa menunggu jawabku dia pun berdiri, "Keburu siang," lanjutnya.  Aku mengikutinya, setelah berpamitan pada ibu tentunya. Sampai di dekat motor, Mas Hamim memakaikan helmku dan mengaitkannya, dia juga memakai helm dan memberi kode  padaku agar langsung naik di jok belakang. Di perjalanan kami tidak saling bicara, meskipun sebenarnya banyak yang ingin aku tanyakan.  Pastinya setelah menikah kami...

Cerita Dibalik Pandemi

Pria Aneh Manusia hidup di bumi ini sebenarnya apa yang dicari? harta, jabatan, keduanya atau malah bukan semua itu?  Selama pandemi banyak perubahan pola hidup semua orang dan tentu juga pola hidupku juga keluargaku.  Dulu, setiap hari aku mengantar dan  menjemput anakku ke sekolah, mengikuti kegiatan di lingkungan RT kami juga kegiatan yang diadakan oleh perusahaan tempat kerja suami. Satu tahun lebih  sudah  hanya menghabiskan waktu di rumah saja, kegiatan kemasyarkatan semuanya berhenti dan yang lebih terasa dampaknya bagi keluargaku adalah sekolah daring. Aku ingat betul kala itu, malam saat anakku mempersiapkan diri mengikuti ujian kelulusan Sekolah Menengah Pertama, mendapat kabar dari wali kelas bahwa ujian esok hari dibatalkan sampai batas waktu yang belum bisa ditentukan. Karena anak tidak sekolah maka aku yang kebetulan tinggal di pinggiran kota kesulitan memenuhi kebutuhan rumah tangga terutama keperluan dapur. Sebelum pandemi setiap hari aku belanj...

Mencari teman

Mencari Teman 16 Dingin Aku kibas air sungai dengan kaki sekencang mungkin sehingga air sungai muncrat kemana-mana. Apa yang kulakukan membuat teman-teman kepuncratan air dan sedikit basah dan melihat itu aku menambah tenaga untuk mengibaskan kaki di air sungai. Baju bagian depan mereka terlihat basah saat aku menghentikan kakiku dan tak lama mereka ikut turun sungai. Maka kami semua bermain air dan saling mengibaskan kaki ke air puncratan air mengenai badan kami.  Baju kami menjadi basah, tetapi kami belum ingin menghentikan kesenangan. Bagi kami bermain air adalah hiburan yang menyenangkan dan juga menyehatkan, iya kan? Di tengah permainan aku berseru pada teman-teman, "Tadi aku lihat ada seruang, lo," mendengar perkataanku, teman-teman menghentikan permainan.   "Ayo, kita cari!" ajak Sulhan sambil membungkukkan badannya, "Kamu lihat di sebelah mana, Dan?" tanya Sulhan sambil melangkah pelan dengan badan masih membungkuk.  "Ayo kita cari, kalau ti...

Mencari Teman

 Mencari Teman 10 Saluang Mauli yang manis membuat kami ketagihan, inginnya lagi, dan lagi menggigit serta mengunyah. Tanpa sadar mauli kami telah berpindah tempat ke perut dan yang tersisa kulit yang berserakan di sekitar tempat kami duduk. Perutku terasa mau meledak dan pasti teman-teman juga merasakan hal yang sama. Hingga  rasa kenyang itu  membuatku mengantuk dan ingin merebahkan badan lalu memejamkan mata. Sekilas kulihat teman-teman masih menghabiskan mauli yang mereka punya. Hem, apa perutnya endak meledak nanti?   Sambil menunggu teman-teman menghabiskan maulinya, aku berdiri dan bermaksud ke sungai mencari ikan seluang agar tidak mengantuk. Perlahan aku menuruni sungai dan merasakan dinginnya air kali.  Aku tidak menyeberang, akan tetapi menyusuri pinggiran atau tebing kecil dari sungai.  Perlahan aku mencari sarang seluang yang biasanya ada di tepi sungai yang ditumbuhi rumput. Kusibak rumput yang menutupi air di depanku saat kulihat ada ger...

Mencari Teman

Mencari Teman 9   Si Mauli Imut   Aku memanggil Irfan dan Ririn yang masih bertengkar di seberang sungai sambil berusaha mematahkan Karang Munting yang menghalangi jalan kami. Sekilas kulihat Ririn dan Irfan menghentukan pertengkaran dan kemudian menyeberangi sungai. Tidak lama mereka pun sudah bergabung bersama kami dan ikut menyibak daun rambatan yang masih menghalangi.  Kami berempat akhirnya bersama-sama membersihkan  tanaman rambat dan Karang Munting yang masih ada, meskipun tanpa alat kami biasa melakukannya, apalagi tumbuhan yang ada sangat mudah di cabut atau dipatahkan. Sampai kemudian kami bisa mendekat dan meraih mauli yang sebagian besar sudah masak itu. Kami berempat tidak perlu berebut, karena Mauli yang bisa kami makan sangat banyak, Ririn yang cerewet memetik Mauli dengan menghitungnya. Sementara aku dan lainnya memetik dengan diam tapi dalam hati bersorak. Kami membawa  Mauli dengan cara menarik bagian bawah kaos dan mengangkatnya, bagian de...

Mencari Teman

Mencari Teman 8 Mauli Manis Membayangkan rasa manis membuat air liurku menetes, rasanya tidak sabar untuk menyicipi buah satu itu. Kami terus menyusuri jalan setapak  sambil terus bergurau dan tanpa terasa kami sudah sampai di tempat yang Irfan maksud, kami berlima berhenti di pinggir sungai kecil. Sulhan yang sangat menyukai air langsung turun dan bermain air dengan menendang-nendangkan kakinya ke air. Puncratan air mengenai kami membuat baju kami sedikit basah, maka Irfan meneriaki Sulhan, " He ... berhenti! basah semua kita,"  ucapnya sambil mengibaskan tangan. Setelah mengucapkan itu, Irfan menoleh ke kiri dan ke kanan, "Tadi seingatku ada Mauli di sana." katanya sambil menunjuk ke arah kanan kami. Mendengar perkataan Irfan, akupun mengikuti arah yang ditunjuknya, juga diikuti teman lainnya. Kami tidak melihat Mauli yang Irfan maksud. Aku jadi kecewa karena ternyata tidak mendapatkan Mauli, sepertinya teman-teman juga kecewa. Ririn dengan spontan menoyor kepa...

Mencari Teman

Mencari Teman 7 Ada ular Aku menertawakan tingkah konyol teman-teman yang menggoyang-goyangkan jala. Sulhan yang sedikit gendut terlihat paling semangat, lucu sekali. Meskipun gendut tapi Sulhan tetap pandai memanjat pohon. Beda dengan Ririn yang punya badan kecil, dia tidak terlalu pandai memanjat. Melihat tingkah teman-teman, aku jadi ingin ikut bermain jala juga. Aku berdiri dan diam-diam mendekati mereka, aku akan mengagetkan mereka yang tengah asik bermain. Saat telah dekat, dengan nyaring aku berteriak, "Ular, ada Ular ....!"  sambil pura-pura panik , aku terus berteriak menyebut binatang yang menggelikan sekaligus berbahaya itu.  Teman-teman yang mendengar teriakanku mulai ikut panik, mereka celingukan mencari keberadaan binatang yang kusebut. Ada yang mencari ranting, ada yang mundur dan mendekat ke pohon siap manjat kalau si Ular mendekatinya, ada juga yang mendekatiku dan memelukku.  Melihat hal itu, aku tidak bisa lagi menahan tawa dan secara spontan akupun ...

Rijt Di Bukit Kanton Una

        Rijt Di Bukit Kanton Una Kanton Una-Sana perbatasan Kota Bihać yang terdapat perbukitan nan indah. Tempat menyepi dan bersembunyi dari riuhnya peradaban manusia dengan segala keserakahannya, tapi juga tempat paling berbahaya bagi pengelana yang tak mampu memecahkan misteri si tuan rumah. Tidak banyak yang mampu sampai puncaknya, karena untuk mencapainya harus melalui jalanan berbatu, meliuk, juga misteri yang siap menggagalkan para pendaki. Tapi itu tidak berlaku untuk Rijt bersaudara, mereka sangat tangguh untuk digagalkan. Baginya tempat itu adalah tempat yang  nyaman menghabiskan waktu bersama  kedua adiknya Sead dan Safn. Tiga tahun telah berlalu dan Rijt kecil menjelma menjadi gadis tangguh  pelindung adik-adiknya, menjadi Ayah, juga berperan layaknya Ibu dan mengasuh adiknya dengan kasih sayang. Kala itu, di Bihać terjadi perang antar etnis yang cukup besar dan menewaskan sebagian penduduk dewasa. Orangtua Rijt menjadi bag...

Mencari teman

MENCARI TEMAN 6 Menunggu Hasil Tangkapan Irfan tampak hati-hati menuruni pohon dan kami menunggu dengan sabar. Setelah Irfan menginjakkan kakinya di tanah, kami semua bersorak karena harapan mendapat burung akan terwujud, apalagi aku yang mengajak mereka pastinya lebih senang. Jala sudah membentang di antara dua pohon, seperti layar tanjap yang pernah kutonton di film Warkop. Meskipun butuh waktu lama untuk menunggu supaya ada burung yang tersangkut dijala, tetapi itu tidak masalah bagi kami. Hal yang biasa bagi kami untuk merenggek baik merenggek burung ataupun ikan.  Kamipun mencari tempat yang nyaman untuk menunggu. Tentunya tempat nyaman di hutan itu ya di bawah pohon besar yang biasanya agak bersih. Di bawah pohon yang tinggi biasanya tidak ditumbuhi rumput ataupun ilalang. Saat kami mendapat tempat yang nyaman, maka kami berlima merebahkan diri. Berlima berjajar seperti Ikan Tembang yang dijajar dilapak Paman Onu, dengan mata  kami yang tidak beralih dari bentangan j...

Mencari Teman

MENCARI TEMAN 5 Mengikat Jala Di Pohon Kedua Aku dan teman lain mengikuti Sulhan, merebahkan diri kemudian memandang Langit yang tampak memesona.  Dari celah dedaunan terlihat pula Matahari yang mulai meninggi dan kamipun sibuk dengan pikiran masing-masing. Suasana sepi tanpa ada candaan kami, hanya ada suara gesekan daun dan ranting yang diterpa angin. Sesaat akupun terlena dan sedikit mengantuk karena terpaan angin. Sampai akhirnya, Irfan memecah kesunyian dengan bertanya pada kami, "Siapa lagi, nih, yang manjat?" Tanyanya sambil bangkit dari tidurnya kemudian duduk menopang dagu menghadap ke kami yang masih berbaring. "Kamu, lah!" jawabku spontan karena tahu Irfan juga jago memanjat. "Iya, kamu, Fan! nanti aku giliran yang lepas." Jawab Ririn sambil bangun dari baringnya. Irfan tampak tidak keberatan, karena itu  dia tidak membantah, maka yang lainpun ikut bangun dan berdiri, lalu aku mengambil salah satu ujung jala yang menjuntai dari pohon perta...

Mencari Teman

MENCARI TEMA 4 Mengikat Jala Di Pohon Kami minum air sumber yang menetes dari sela-sela akar Pohon Bangkirai, airnya sangat segar dan kami yakin tetap sehat. Toh kami juga sudah terbiasa minum air yang tidak direbus, bagi kami minum air yang penting bersih.  Setelah puas minum kami segera melanjutkan petualangan, bergegas menaiki bukit dan kembali ke jalan setapak yang sebelumnya kami lewati. Kali ini kami berjalan dengan semangat karena sudah tidak haus. Menuruni dan menaiki bukit, jalanan pun ada yang miring membuat Kami tertantang. Lahir di kampung yang ada di pinggir hutan membuat kami terbiasa dengan suasana hutan. Kami juga terbiasa keluar masuk hutan. Setelah agak lama berjalan kami pun sampai di bukit yang kami tuju, bukit  berada di dekat Sungai Wain yang merupakan sumber air bersih di kota kami Balikpapan. Kami mencari pohon yang paling tinggi untuk mengikat dan merentangkan jala untuk menangkap burung. Setelah melihat-lihat kami pun menemukan dua pohon tinggi y...

Mencari Teman

Mencari Teman 3 Petualangan Di Mulai Akhirnya Aku, Sulhan, Ririn, Irfan, dan Rehan berangkat  ke kilo sepuluh melewati jalan setapak di kebun. Aku yakin kami berlima bisa sampai di sana secepatnya, agar kami tidak kemalam pulangnya. Kadang merenggek memerlukan waktu yang lama dan berpindah-pindah, jika tidak ada burung terbang di sekitar jala kami.  Sambil bercanda dan saling meledek, kami menyusuri jalan setapak. Kadang naik, kadang turun, berbelok-belok, dan juga melewati sungai-sungai kecil. Ririn tergoda untuk bermain air saat melewati sungai, tetapi kami tidak setuju. Bermain air bisa lain hari, sekarang waktunya merenggek dan berharap mendapat burung yang bisa kami jual. Di jalan kami juga menjumpai beberapa pohon yang sudah berbuah, ada Lay, Cempedak, Jambu , Salak, Pisang, dan Kesemek, hanya saja diantara buah itu belum ada yang masak. Aku berkhayal nanti kalau waktunya buah-buah itu masak, maka aku akan kesini untuk memetik. "Teman, Aku haus! kalian haus endak?" ...

Mencari teman

MENCARI   TEMAN Episode 2 Aku mencari teman-teman melewati jalan setapak dikebun. Jalan ini merupakan jalan pintas untuk cepat sampai di rumah Pak Arif. Aku ingin cepat bertemu mereka dan mengajaknya mencari burung. Tidak terlalu lama berjalan, akupun sudah  mendengar suara teman-teman tertawa, dalam hati aku bersorak. Dengan semangat aku berlari menuju rumah Pak Arif yang juga sudah terlihat. Sampai di sana terlihat teman-teman sudah banyak, mereka bergerombol mengelilingi meja bundar yang ada diteras dan satu sari mereka memegang handphone. Pasti mereka bermain game Free Fire yang sekarang ini lagi kami sukai. Melihat hal itu aku lebih bersemangat dan spontan memanggil teman-teman, "Sulhan, Irfan, Ririn!" seruku sambil mendekat.      Mendengar panggilanku mereka menoleh, tetapi hanya sebentar, kemudian mereka kembali fokus pada handphone milik teman. Aku mendekat dan berharap mereka mau mendengar ajakanku, "Han ... ayo merenggek burung!" ajakku pada Sulhan...