Langsung ke konten utama

Belajar Di Bawah Pohon


BELAJAR DI BAWAH POHON

Memasuki pekan ke lima ada tugas yang ternyata bertambah berat dan sedikit membingungkan buat pemula seperti saya. Tentang Personal Brending, Niche, Enterpreniur dan entah istilah apalagi yang buat saya harus Goegling. Tapi saya tidak putus asa maka kali ini saya akan menfokuskan diri pada apa yang selama ini saya lakukan dan menjadi prioritas saya dalam mengisi waktu. 

Sejak remaja saya menyukai anak-anak, juga ingin selalu dekat dengan anak-anak. Rumah orangtua saya menjadi tempat bermain dan belajar oleh anak tetangga yang kebanyakan masih Sekolah Dasar. Saya yang kala itu sudah SMA dan  tidak mempunyai teman tentu sangat senang mengajari mereka, karena waktu itu saya adalah satu-satunya anak perempuan yang melanjutkan sekolah sampai jenjang SMA. Kebanyakan lulus SD atau SMP teman saya sudah merantau ke kota untuk bekerja.

Lulus SMA saya ke Surabaya bekerja sambil kuliah dan karena ada pengalaman mengajari anak tetangga, saya diajak teman bergabung sebuah komunitas yang memberi pendidikan non formal pada anak pemulung di salah satu kawasan kota Surabaya. Empat tahun kegiatan mengajar di komunitas itu saya jalani. Namun, krisis moneter dan reformasi menghentikan kegiatan karena saya tidak mempunyai biaya transportasi, karena saya di PHK dari tempat saya bekerja. Sedih rasanya, tetapi bagaimana lagi.

Hingga di tahun 2002 saya menikah dan mengikuti suami ke Balikpapan. Ternyata adaptasi di tempat baru dengan masyarakat yang memiliki kebiasaan sangat berbeda dalam segala hal, cukup menghabiskan energi dan pikiran. Tiga tahun di Balikpapan, saya mengusulkan pada suami untuk membeli rumah dan setelah memilih serta mempertimbangkan banyak hal, akhirnya pilihan kami adalah membeli tanah di sebuah kampung pinggiran kota yang kemudian kami bangun secara bertahap.

Lagi-lagi saya harus beradaptasi dengan lingkungan baru, tapi kali ini tidak terlalu sulit karena sudah sedikit terbiasa dengan adat kebiasaan hidup masyarakat yang berasal dari Sulawesi Selatan itu. Tanpa banyak kendala saya berbaur dengan mereka walaupun saat itu saya adalah satu-satunya yang berasal dari Jawa.

Enam bulan tinggal di sini, satu-satu mulai ada anak tetangga yang bermain di halaman rumah saya dan itu membuat anak saya senang karena mendapat teman bermain.  Rumah saya memang jauh dari tetangga, tapi depan rumah dilewati tetangga yang akan pergi ke kebun, jadi terkadang anak mereka malah tidak jadi ikut dan memilih bermain dengan anak saya.

Waktu berjalan terus dan tidak terasa saya sudah tiga tahun berada di sini. Tiga tahun cukup buat saya lebih mengerti tentang tetangga saya dan saya tergugah untuk berbuat sesuatu. Alalagi semakin banyak anak usia sekolah yang bermain di halaman rumah saya di siang hari dan saat saya tanya ternyata mereka tidak sekolah. Mengetahui hal itu, saya pun  menyampaikan keinginan saya untuk mengajari mereka membaca dan menulis. Saya sangat bersyukur ternyata suami saya mendukung, bahkan besoknya suami pulang kerja dengan membawa buku tulis dan peralatan menulis lainnya. 

Maka di tahun 2008 mulailah saya mengajari anak-anak itu membaca, manulis, berhitung, juga menghafal doa sehari-hari. Di tempat sederhana bahkan sering di bawah pohon mereka belajar dengan tekun.

Oh, iya. Tempat tinggal saya sekarang adalah Jl. PDAM sekitar sepuluh kilometer dari pusat kota Balikpapan. Dulu kampung kami sepi dan terpencil, tapi sekarang sudah ramai dan padat penduduk, bahkan kampung kami di kelilingi Perumahan. 

Bersambung ....


Balikpapan, 30 September 2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[6/11/2021 20:45] PB Raka Sena: Saya ingin bicara. [6/11/2021 20:45] PB Raka Sena: Saya makin lelah dengan keberadaan saya di penulisan. [6/11/2021 20:45] PB Raka Sena: Jika memang keberadaan saya di penulisan menjadi masalah untuk orang lain, saya akan mundur dengan segera. [6/11/2021 20:47] PB Raka Sena: Terkait siapa pun saya, mohon jangan mencari tahu terlalu banyak. Agama saya, masa lalu saya, status saya rasanya bukan hal penting untuk Teman-teman. Cukup kenali saya sebagai Raka Sena. [6/11/2021 20:47] PB Raka Sena: Jika selama mengenal saya pernah melukai ataupun merugikan Teman-teman, saya mohon maaf. [6/11/2021 20:49] PB Raka Sena: Fabula Publisher bermasalah di hari terakhir pendaftaran. Setelah posting PO kedua Kafaah banyak bermunculan orang-orang yang saya komunikasi pun tidak. [6/11/2021 20:49] PB Raka Sena: Saya merasa tidak merugikan mereka. [6/11/2021 20:50] PB Raka Sena: Fabula Diskusi mengundang member secara terbuka. [6/11/2021 20:50] PB Raka Sena: Saya tidak tahu s...

Rahasia Gunung Semeru

Part VI Sans berjongkok kemudian mengusap kepala salah satu Arca itu lalu berkata lirih, " Arca Arcopodo ." Lama terdiam Sans berfikir di mana dia pernah melihat wajah arca itu karena dia merasa amat  kenal dengan wajah arca itu. Lamunan Sans terhenti saat ada sesuatu bergerak cepat dan melewati. Seperti kayu tapi berkilau dan runcing. Sans terduduk saat terasa ada dorongan keras dari samping kirinya, ketika dia menoleh seorang pria memakai baju tradisional layaknya baju-baju zaman kerajaan. Dengan memakai Baju   Zirah berwarna perak, kain sutra motif kawung melilit di pinggang, sementara  ikat kepala warna keemasaan tampak terpecik warna merah darah. Sans sempat kagum melihat pria gagah di depannya sebelum akhirnya tersadar ada pedang di tangan pria itu.  Pedang itu berlumuran darah, bahkan jemari yang menggenggam pedang  itu juga berlumuran darah. Bau anyir menusuk hidung darah segar itu bahkan masih menetes dari ujung pedang.  Seketika Sans...

Jodohku

Jodohku   Tiga puluh menit  cukup bagiku untuk mempercantik diri,  seperti pemintaan ibu pagi ini aku akan jalan dengan calon suami. Ya aku sudah menerima perjodohan ini, meski  awalnya ragu tapi setelah kupikir-pikir pilihan ibu meski tidak akan salah. Apalagi kami sebenarnya teman sekolah.Sementara bapak hanya setuju saja apa mau ibu. "Sa, ini Hamim sudah datang, cepat keluar!" teriak ibu dari ruang tamu. Mendengar teriakan ibu, aku bergegas keluar dan di ruang tamu tampak Mas Hamim duduk  sambil minum teh buatan ibu. "Sekarang, ya?" tanya Mas Hamim dan tanpa menunggu jawabku dia pun berdiri, "Keburu siang," lanjutnya.  Aku mengikutinya, setelah berpamitan pada ibu tentunya. Sampai di dekat motor, Mas Hamim memakaikan helmku dan mengaitkannya, dia juga memakai helm dan memberi kode  padaku agar langsung naik di jok belakang. Di perjalanan kami tidak saling bicara, meskipun sebenarnya banyak yang ingin aku tanyakan.  Pastinya setelah menikah kami...