Langsung ke konten utama

Biografi Arswendo Atmowiloto

Biografi Arswendo Atmowiloto
Sumber; Goegle, TribunNew,com 

Lahir dengan nama Sarwendi pada tanggal 26 November 1948 di Surakarta Jawa Tengah. Lalu Ia mengganti namanya menjadi Arswendo Atmowiloto, nama belakangnya ia ambil dari nama bapaknya.

Arswendo menikah dengan Agnes Sri Hartini dan memiliki tiga orang anak.

Di dunia sastra Arswendo termasuk sastrawan yang berpengaruh, Ia juga berperan dalam mengisi dan mengembangkan sastra. Ia pernah memimpin Bengkel Sastra yaitu pusat kesenian Jawa Tengah di tahin 1972. Ia juga seorang wartawan terbukti Ia pernah memimpin beberapa redaksi, diantaranya; Kompas, Redaksi Hai, Monitor, dan Senang.

Banyak karya Arswendo telah  di bukukan. Kali ini saya akan sedikit mengulas buku-buku Arswendo yang terkenal;

 1. Keluarga Cemara
Mendengar judul Keluarga Cemara maka ingatan saya dan juga sebagian besar pembaca pastinya mengarah ke drama keluarga atau sinetron yang tayang di RCTI kisaran tahun 1996. Di buku ini diceritakan keluarga Abah dan cara menyelesaikan masalah yang datang sehari-hari. Di buku ini banyak sekali hikmah yang bisa kita ambil dari peristiwa sederhana yang di sajikan.

 2. Canting
Di buku ini mengisahkan kehidupan Ni [Subandini Dwi Putri] yaitu putri seorang pengusaha batik tradisional di masa sebelum kemerdekaan dan setelah kemerdekaan.

 3. Senopati Pamungkas
Di buku ini diceritakan tentang seorang Senopato Pamungkas yang berusaha keras untu mencapai jabatan tertinggi yaitu Mahapatih. Cerita ini berlatar belakang zaman Majapahit.

 4. Doa Ibu
Di buku ini diceritankan perjuangan seorang wanita yang mengasuh dan membesarkan sembilan anak yang bukan anak kandungnya, melainkan anak yang memiliki orangtua berbeda.

 5. Menghitung Hari
Buku ini ditulis saat Arswendo menjalani masa hukuman selama lima tahun atas kasus penghinaan terhadap Nabi. Arswendo yang saat itu Pimpinan Redaksi Monitor juga telah meminta maaf, tetapi kasusnya tetap berlanjut dan Ia di jatuhi hukuman penjara. Di buku ini juga terdapat karya aknedot yang menambah warna bukunya.

 6. Mengarang Itu Mudah
 Buku ini berisi tentang panduan tentang penulis khususnya untuk penulis pemula. Buku ini sangat venomenal terbukti sudah dicetak ulang lebih dari 10x.


Arswendo Atmowiloto meninggal di Solo pada hari Jumat tanggal 19 Juli 2019 pukul 17.50 WIB.
Semoga karya Arswendo Atmowiloto bisa memberi inspirasi bagi kita semua untuk untuk menghasilkan karya yang bermanfaat untuk pembaca. 

"Bersaksi adalah mengatakan sesuatu yang dilihat atau dialami, kita semua tahu karena kita mengenal saksi di pengadilan dan sering juga kita tampil di pengadilan sebagai saksi. Dasar bersaksi adalah kejujuran" Kutipan dari salah satu buku karya Arswendo Atmowiloto yang berjudul "Khotbah Di Penjara"

Selesai

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[6/11/2021 20:45] PB Raka Sena: Saya ingin bicara. [6/11/2021 20:45] PB Raka Sena: Saya makin lelah dengan keberadaan saya di penulisan. [6/11/2021 20:45] PB Raka Sena: Jika memang keberadaan saya di penulisan menjadi masalah untuk orang lain, saya akan mundur dengan segera. [6/11/2021 20:47] PB Raka Sena: Terkait siapa pun saya, mohon jangan mencari tahu terlalu banyak. Agama saya, masa lalu saya, status saya rasanya bukan hal penting untuk Teman-teman. Cukup kenali saya sebagai Raka Sena. [6/11/2021 20:47] PB Raka Sena: Jika selama mengenal saya pernah melukai ataupun merugikan Teman-teman, saya mohon maaf. [6/11/2021 20:49] PB Raka Sena: Fabula Publisher bermasalah di hari terakhir pendaftaran. Setelah posting PO kedua Kafaah banyak bermunculan orang-orang yang saya komunikasi pun tidak. [6/11/2021 20:49] PB Raka Sena: Saya merasa tidak merugikan mereka. [6/11/2021 20:50] PB Raka Sena: Fabula Diskusi mengundang member secara terbuka. [6/11/2021 20:50] PB Raka Sena: Saya tidak tahu s...

Rahasia Gunung Semeru

Part VI Sans berjongkok kemudian mengusap kepala salah satu Arca itu lalu berkata lirih, " Arca Arcopodo ." Lama terdiam Sans berfikir di mana dia pernah melihat wajah arca itu karena dia merasa amat  kenal dengan wajah arca itu. Lamunan Sans terhenti saat ada sesuatu bergerak cepat dan melewati. Seperti kayu tapi berkilau dan runcing. Sans terduduk saat terasa ada dorongan keras dari samping kirinya, ketika dia menoleh seorang pria memakai baju tradisional layaknya baju-baju zaman kerajaan. Dengan memakai Baju   Zirah berwarna perak, kain sutra motif kawung melilit di pinggang, sementara  ikat kepala warna keemasaan tampak terpecik warna merah darah. Sans sempat kagum melihat pria gagah di depannya sebelum akhirnya tersadar ada pedang di tangan pria itu.  Pedang itu berlumuran darah, bahkan jemari yang menggenggam pedang  itu juga berlumuran darah. Bau anyir menusuk hidung darah segar itu bahkan masih menetes dari ujung pedang.  Seketika Sans...

Jodohku

Jodohku   Tiga puluh menit  cukup bagiku untuk mempercantik diri,  seperti pemintaan ibu pagi ini aku akan jalan dengan calon suami. Ya aku sudah menerima perjodohan ini, meski  awalnya ragu tapi setelah kupikir-pikir pilihan ibu meski tidak akan salah. Apalagi kami sebenarnya teman sekolah.Sementara bapak hanya setuju saja apa mau ibu. "Sa, ini Hamim sudah datang, cepat keluar!" teriak ibu dari ruang tamu. Mendengar teriakan ibu, aku bergegas keluar dan di ruang tamu tampak Mas Hamim duduk  sambil minum teh buatan ibu. "Sekarang, ya?" tanya Mas Hamim dan tanpa menunggu jawabku dia pun berdiri, "Keburu siang," lanjutnya.  Aku mengikutinya, setelah berpamitan pada ibu tentunya. Sampai di dekat motor, Mas Hamim memakaikan helmku dan mengaitkannya, dia juga memakai helm dan memberi kode  padaku agar langsung naik di jok belakang. Di perjalanan kami tidak saling bicara, meskipun sebenarnya banyak yang ingin aku tanyakan.  Pastinya setelah menikah kami...