Langsung ke konten utama

Harapan

 Harapan

Asap mengepul memenuhi sebuah rumah kecil, seakan berlomba dengan angin yang menerobos dari celah dinding triplek yang sudah mulai rapuh, seng atap rumah itu pun sudah banyak yang berlubang. Seorang wanita dengan gesit menyiangi sayuran,  meracik bumbu, sambil sesekali membetulkan tungku agar api tetap menyala.

Hari masih gelap, hujan tidak juga ada tanda-tanda untuk berhenti segera. Sudah dua minggu hujan turun setiap pagi, menyebabkan wanita itu tidak berjualan di pasar.

Ya, dia ibu dengan empat anak,  berumur dua puluh delapan tahun, tubuhnya kurus dengan kulit menghitam, rambut terlihat kusut menandakan jarang  disisir.

Masakan telah matang, sayur daun Kelor, ikan rebus, dan tempe. Sederhana bagi orang lain, tapi bagi Ita itu adalah menu terbaik yang bisa dia hidangkan untuk anak-anak.

Ami, Rehan, Sahrul, dan Mia. Empat anak yang saat ini menjadi tanggung jawabnya, dipundaknyalah semua kebutuhan mereka harus dia penuhi.

Suara petir membangunkan anak-anaknya, diikuti suara tangis Mia, si bungsu yang masih berumur dua tahun.

"Mak, makan, lapar," pinta Rehan sambil mengucek mata.

Sambil menggendong si Bungsu, Ita menggambil tiga piring dan mengisinya dengan nasi,  beserta lauk pauk.
Di baginya ketiga piring di depan anak-anak.

 Ita duduk di dekat pintu yang telah dia buka, duduk selonjor menyusui si Bungsu. Tidak sekolah membuatnya tidak mengerti akan kesehatan, dibiarkanya anak-anak makan tanpa cuci tangan, atau mandi setelah bangun tidur.

"Kalau, hujan reda, Mamak akan keliling jual singkong, kamu jaga adik ya Am!" perintanya pada si sulung.

Lagi-lagi kebutuhan yang mendesak ditambah lagi dia tidak memiliki keterampilan, membuatnya hanya bisa berjualan singkong di pasar atau keliling di perumahan dekat rumahnya.

Si sulung meskipun baru berumur delapan tahun sudah bisa di percaya untuk menjaga adik-adiknya, selama Ita berjualan. Tuntutan keadaan membuat anak-anak cepat dewasa.

Hari sudah agak siang, hujan reda, Ita segera berangkat keliling menjajakan singkong di keranjang. Dari rumah kerumah, ternyata di perumahan itu banyak yang membeli, bahkan ada yang pesan dan minta di antar dua hari mendatang.

Singkong telah habis, dengan wajah sedikit ceria, Ita pulang membawa hasil jualan yang sedikit lebih banyak dari hari sebelumnya, tak lupa dia singgah di warung untuk membeli kebutuhan besok, juga tak lupa, Ita beli kue kering untuk anak-anaknya.

Sampai di rumah, segera dia mengeluarkan belanjaannya. Dibaginya kue kering yang sudah dia beli, wajah ceria empat anaknya memnghangatkan hati wanita ulet itu.

Kali ini empat anaknya sudah mandi, meskipun tidak memakai sabun, karena belum ada uang untuk membeli. Tentu saja bau keringat masih sedikit menempel, setidaknya mereka tidak merasa gatal.

Setelah makan malam, anaknya tertidur di ruangan 3×4 ,lima orang bedesakan mencari tempat yang nyaman untuk berbaring. Ita merebahkan badannya  yang terasa pegal di dekat si Bungsu, agar jika sewaktu-waktu bangun bisa Ita susui. Hatinya  sedikit lega, kebutuhan makan empat anaknya besok sudah tersedia.

Belum lama merebahkan diri, Itapun terlelap menyusul anak-anaknya. Tak mereka rasakan gigitan nyamuk di kulit mereka.

"Ta! oh, Waita!" Gedoran pintu dan teriakan seseorang, membangunkan seisi rumah. Hari masih gelap keriuhan tangis anak-anak yang terkejut adanya gedoran di pintu.

"Suamimu, kumat,merusak jendela rumah, Pak Rinto!"  kakak ipar Ita, menjelaskan, sambil terengah-engah.

Keluar rumah dan mengikuti Kakak iparnya, Ita berjalan tanpa menghiraukan tangis anak bungsunya. Pikirannya tertuju pada Suaminya yang sakit dan kembali berulah, sementara akibat perbuatanya bulan kemarin saja masih harus Ita tanggung, dengan mencicil.

Sampai di depan rumah Mertuanya,  banyak orang yang berkumpul dan terlihat suaminya dipegang dua orang tetangga. Wajahnya nampak merah padam, layaknya orang yang menahan marah. 

Suara-suara sumbang dari tetangga,  membuat Ita semakin tertekan. Bukan hanya memikirkan kerugian Pak Rinto, tapi juga anggapan mereka tentang suaminya yang di nilai tidak waras.

Seandainya ada biaya, tentu saja Ita ingin suaminya dirawat di Rumah Sakit. Bukankah sakit Malaria bisa sembuh, tapi kenapa Malaria membuat suaminya berperilaku buruk. Pikiran Ita terus saja berputar-putar memikirkan,  suaminya yang tak kunjung sembuh.

"Taa! kamu, harus tanggung jawab! ganti kaca jendela rumahku, hari ini juga!" Pak Rinto berteriak sambil mendekati kerumunan warga.

Semua orang beralih melihat ke Pak Rinto,  mereka semua tau siapa Beliau, orang kaya di kampung, dengan karakter keras tidak ada yang berani membantah padanya.

Tanpa peduli dengan orang sekitarnya Pak Rinto berlalu begitu saja, diikuti tetangga yang membubarkan diri. Mungkin mereka memberi ruang untuk Ita dengan mertuanya memikirkan ganti rugi yang ditutut pemilik kaca jendela yang telah pecah.

Ita terduduk seperti tanpa tenaga, hatinya menciut dan berpikir dari mana dapat uang untuk membeli kaca, tentunya tidak murah.

"Sudah, tenang, Mamak ada cincin, sebentar Mamak jual, bisa untuk ganti kaca yang pecah," keputusan mertuanya membuat lega.

"Pulang, sana, kasihan anak-anakmu," lanjut mertuanya dengan tatapan sedih.

Ita pun berdiri dan melangkahkan kakinya untuk pulang. Hatinya sedikit lega, mertuanya membantu untuk meringankan bebannya. Meskipun di hati kecilnya merasa tidak enak dan kasihan, mertuanya sudah tua, dengan penghasilan yang tidak berbeda jauh darinya, tetapi keadaannya juga tidak lebih baik.

Tanpa disadari, Ita sudah sampai di depan rumahnya, meskipun bukan rumah sendiri, tapi di situlah tempat ternyaman, untuk Ita dan anak-anak saat ini.

"Mak, kami, sudah makan," teriak Rehan, begitu Ita berdiri di depan pintu.

"Diantarin orang baru itu, lo, Mak," sambung Ami dengan menunjuk rumah yang ada di seberang.

Ita merasa lega luar biasa, anak-anaknya sudah makan. Jadi dia tinggal memasak untuk siang dan malam hari. Tidak juga dia pedulikan perutnya yang terasa perih karena lapar.

Bergegas Ita mengerjakan semua pekerjaan rumah yang belum disentuhnya. Mencuci baju hal yang pertama Ita kerjakan, sebelum masak.

Pekerjaan sudah selesai, sangat jarang Ita dirumah di siang hari, tapi hari ini Ita tidak bersemangat untuk ke kebun memanen singkong. Ita kehilangan semangat kerja, diperhatikan anak-anaknya yang bermain kelereng di depan rumah.

"Mbak, mbak Ita!" panggilan tetangga baru, mengejutkan Ita.

"Eh, iya, Bu, ada apa?" Ita menjawab, beranjak dari duduknya.

"Mbak Ita, mau, kerja  di rumah saya?" sambungnya, sambil melihat anak-anak yang bermain.

"Sa-saya, ndak bisa masak, Bu, seterika juga kurang halus, malah pernah membuat baju majikan saya berlubang, makanya saya diberhentikan," dengan sedikit malu Ita menceritakan kejadian beberapa bulan lalu.

"Ndak, papa, nanti pelan-pelan saya ajari!" lanjut ibu itu, dengan ramah.

Selanjutnya, Ita pun, belajar mengerjakan tugas-tugasnya, dengan diajari Ibu Susi, tetangga barunya. Hingga tidak terasa enam bulan sudah Ita bekerja di sana.

Ita yang pada dasarnya sangat rajin dan ulet, membuat Bu Susi bersedia mengajari dan mempekerjakannya.

Perlahan kehidupan Ita sedikit membaik, dengan rutin berobat ke Puskesmas, suaminya sudah tidak lagi bersikap kasar dan merusak barang, juga sudah bisa menjaga anak-anak, saat Ita bekerja.

Ami, anak sulungnya juga sudah masuk SD, memang terlambat berumur sembilan tahun. Karena memang baru bisa mengurus surat identitas diri, untuk memenuhi persyaratan pendaftaran.

Tentu saja ini berkat bantuan Bu Susi dan suaminya. KK, KTP dan Akte kelahiran Ami, semua Bu Susi yang menguruskan. Dengan menyicil biayanya, yang bagi Ita tidak sedikit.

Hp bekas juga bisa Ita beli, untuk keperluan sekolah Ami, yang saat ini menggunakan media daring.

"Mak, lihat, Aku buat vidio menyanyi, tugas dari Bu Guru! tadi di bantu Ibu Les," cerita Ami dengan antusias, sambil memperlihatkan layar hp yang memutar vidio dirinya menyanyikan lagu Garuda Pancasila.

Hati Ita menghangat, Dia sangat bersyukur anaknya bisa sekolah, tidak seperti Bapak dan ibunya yang  tidak sekolah. Harapannya, semua anak-anak bisa sekolah, supaya kelak mereka tidak didera kemiskinan.

Balikpapan, 29 September 2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[6/11/2021 20:45] PB Raka Sena: Saya ingin bicara. [6/11/2021 20:45] PB Raka Sena: Saya makin lelah dengan keberadaan saya di penulisan. [6/11/2021 20:45] PB Raka Sena: Jika memang keberadaan saya di penulisan menjadi masalah untuk orang lain, saya akan mundur dengan segera. [6/11/2021 20:47] PB Raka Sena: Terkait siapa pun saya, mohon jangan mencari tahu terlalu banyak. Agama saya, masa lalu saya, status saya rasanya bukan hal penting untuk Teman-teman. Cukup kenali saya sebagai Raka Sena. [6/11/2021 20:47] PB Raka Sena: Jika selama mengenal saya pernah melukai ataupun merugikan Teman-teman, saya mohon maaf. [6/11/2021 20:49] PB Raka Sena: Fabula Publisher bermasalah di hari terakhir pendaftaran. Setelah posting PO kedua Kafaah banyak bermunculan orang-orang yang saya komunikasi pun tidak. [6/11/2021 20:49] PB Raka Sena: Saya merasa tidak merugikan mereka. [6/11/2021 20:50] PB Raka Sena: Fabula Diskusi mengundang member secara terbuka. [6/11/2021 20:50] PB Raka Sena: Saya tidak tahu s...

Rahasia Gunung Semeru

Part VI Sans berjongkok kemudian mengusap kepala salah satu Arca itu lalu berkata lirih, " Arca Arcopodo ." Lama terdiam Sans berfikir di mana dia pernah melihat wajah arca itu karena dia merasa amat  kenal dengan wajah arca itu. Lamunan Sans terhenti saat ada sesuatu bergerak cepat dan melewati. Seperti kayu tapi berkilau dan runcing. Sans terduduk saat terasa ada dorongan keras dari samping kirinya, ketika dia menoleh seorang pria memakai baju tradisional layaknya baju-baju zaman kerajaan. Dengan memakai Baju   Zirah berwarna perak, kain sutra motif kawung melilit di pinggang, sementara  ikat kepala warna keemasaan tampak terpecik warna merah darah. Sans sempat kagum melihat pria gagah di depannya sebelum akhirnya tersadar ada pedang di tangan pria itu.  Pedang itu berlumuran darah, bahkan jemari yang menggenggam pedang  itu juga berlumuran darah. Bau anyir menusuk hidung darah segar itu bahkan masih menetes dari ujung pedang.  Seketika Sans...

Jodohku

Jodohku   Tiga puluh menit  cukup bagiku untuk mempercantik diri,  seperti pemintaan ibu pagi ini aku akan jalan dengan calon suami. Ya aku sudah menerima perjodohan ini, meski  awalnya ragu tapi setelah kupikir-pikir pilihan ibu meski tidak akan salah. Apalagi kami sebenarnya teman sekolah.Sementara bapak hanya setuju saja apa mau ibu. "Sa, ini Hamim sudah datang, cepat keluar!" teriak ibu dari ruang tamu. Mendengar teriakan ibu, aku bergegas keluar dan di ruang tamu tampak Mas Hamim duduk  sambil minum teh buatan ibu. "Sekarang, ya?" tanya Mas Hamim dan tanpa menunggu jawabku dia pun berdiri, "Keburu siang," lanjutnya.  Aku mengikutinya, setelah berpamitan pada ibu tentunya. Sampai di dekat motor, Mas Hamim memakaikan helmku dan mengaitkannya, dia juga memakai helm dan memberi kode  padaku agar langsung naik di jok belakang. Di perjalanan kami tidak saling bicara, meskipun sebenarnya banyak yang ingin aku tanyakan.  Pastinya setelah menikah kami...