Langsung ke konten utama

Petualangan Pertama Ogik

Aku memperhatikan sepeda milik Paman yang terparkir di halaman rumah Kakek, timbul keinginan untuk mencoba menaiki. Sepeda itu dipakai Paman saat duduk sekolah SMP, tetapi masih terawat dan aman dipakai. Aku ingin menaiki sepeda itu, tetapi Ibu selalu melarang karena khawatir aku jatuh.

Halo ... namaku ogil, aku berumur sepuluh tahun. Sekarang ini aku sedang liburan di rumah Kakek di Jawa, senang rasanya bisa bertemu dan berkumpul dengan keluarga yang ada di sini. Aku juga mendapat teman baru, hanya saja karena mereka jarang memakai bahasa indonesia dan aku tidak terlalu mengerti bahasa Jawa maka kami sering tidak nyambung.

Sekarang ini aku, Ibu, dan Kakakku tidur di rumah kakek dari pihak Ibu yang aku panggil Mbah Kung sedangkan Bapak tidur di rumah kakek dari pihak bapak yang kupanggil Mbah Marto dan rumah keduanya tidak terlalu jauh jaraknya. Saat mengingat Bapak yang lagi tidur di rumah Mbah Marto, aku jadi ingin ke sana.

Maka diam-diam aku mengambil sepeda itu dan mendorong ke jalan dengan pelan, khawatir ibu atau nenek melihatku. Setelah agak jauh dari rumah, aku mengayuhnya dengan pelan. Aku akan memulai petualangan yang mendebarkan, karena baru ini aku kerumah Mbah Marto sendirian dan semoga aku tidak tersesat.

Jalanan di Jawa datar tapi banyak pertigaan dan belokan yang membuatku bingung  sementara jalanan di Balikpapan naik turun bukit tetapi tidak terlalu banyak belokan, aku beberapa kali menjumpai pertigaan dan kali ini aku  tidak ingat harus ambil jalan lurus, belok kanan atau kiri. Jadi aku berteduh dulu dipinggir jalan di bawah pohon mangga, sambil menunggu orang lewat dan bertanya, sambil menunggu aku berusaha mengingat lagi harus ambil arah mana.

Agak lama aku menunggu dan ternyata tidak ada yang lewat, jalanan tetap sepi mungkin ini jamnya orang tidur. Karena tidak bisa lebih lama menunggu, maka aku lanjutkan saja perjalanan kerumah Mbah Marto dan semoga aku tidak salah ambil arah.

Aku mengambil arah lurus karena dikejauhan aku lihat ada sebuah mobil terparkir dipinggir jalan dan sepertinya aku pernah lihat. Aku mengayuh sepeda dengan semangat dan berharap bisa cepat sampai karena aku sudah haus. Sambil mengayuh aku perhatikan dari kejauhan ada orang mirip bapak berjalan sambil menelpon, semakin dekat orang itu semakin jelas dan itu membuatku bersorak dan dengan semangat aku kayuh sepeda agar lebih kencang. Ketika sudah dekat orang itu memanggilku dan benar Ia adalah bapak yang menunggu di tengah jalan.

Aku mendahului bapak yang jalan kaki dan terus saja mengarahkan sepeda ke halaman rumah Mbah Marto, turun dan menaruh sepeda dipinggir lekas aku masuk untuk minum. Belum selesai minum, Bapak sudah dibelakangku menyodorkan handphone dan aku menerimanya.
Aku melihat di layar hp dan di sana  ada wajah Ibu yang terlihat marah, aku jadi takut dimarahi. 

Tapi ternyata aku salah, Ibu tidak marah tetapi cemas, sekilas aku melihat Ibu menangis dan berkata, "Lain kali kalau pergi minta izin, ya, Le. Kalau ada apa-apa di jalan bagaimana?"

Aku mengangguk, menyesal sudah membuat Ibu panik, tetapi juga bangga sudah bisa berpetualang. Ini untuk pertama kalinya aku pergi sendiri. Aku memang pembarani.

Balikpapan, 2 September 2021


Komentar

Postingan populer dari blog ini

[6/11/2021 20:45] PB Raka Sena: Saya ingin bicara. [6/11/2021 20:45] PB Raka Sena: Saya makin lelah dengan keberadaan saya di penulisan. [6/11/2021 20:45] PB Raka Sena: Jika memang keberadaan saya di penulisan menjadi masalah untuk orang lain, saya akan mundur dengan segera. [6/11/2021 20:47] PB Raka Sena: Terkait siapa pun saya, mohon jangan mencari tahu terlalu banyak. Agama saya, masa lalu saya, status saya rasanya bukan hal penting untuk Teman-teman. Cukup kenali saya sebagai Raka Sena. [6/11/2021 20:47] PB Raka Sena: Jika selama mengenal saya pernah melukai ataupun merugikan Teman-teman, saya mohon maaf. [6/11/2021 20:49] PB Raka Sena: Fabula Publisher bermasalah di hari terakhir pendaftaran. Setelah posting PO kedua Kafaah banyak bermunculan orang-orang yang saya komunikasi pun tidak. [6/11/2021 20:49] PB Raka Sena: Saya merasa tidak merugikan mereka. [6/11/2021 20:50] PB Raka Sena: Fabula Diskusi mengundang member secara terbuka. [6/11/2021 20:50] PB Raka Sena: Saya tidak tahu s...

Rahasia Gunung Semeru

Part VI Sans berjongkok kemudian mengusap kepala salah satu Arca itu lalu berkata lirih, " Arca Arcopodo ." Lama terdiam Sans berfikir di mana dia pernah melihat wajah arca itu karena dia merasa amat  kenal dengan wajah arca itu. Lamunan Sans terhenti saat ada sesuatu bergerak cepat dan melewati. Seperti kayu tapi berkilau dan runcing. Sans terduduk saat terasa ada dorongan keras dari samping kirinya, ketika dia menoleh seorang pria memakai baju tradisional layaknya baju-baju zaman kerajaan. Dengan memakai Baju   Zirah berwarna perak, kain sutra motif kawung melilit di pinggang, sementara  ikat kepala warna keemasaan tampak terpecik warna merah darah. Sans sempat kagum melihat pria gagah di depannya sebelum akhirnya tersadar ada pedang di tangan pria itu.  Pedang itu berlumuran darah, bahkan jemari yang menggenggam pedang  itu juga berlumuran darah. Bau anyir menusuk hidung darah segar itu bahkan masih menetes dari ujung pedang.  Seketika Sans...

Rahasia Gunung Semeru

Part VII Pria itu menerima gulungan kain dengan hormat, dia juga membungkukkan badannya saat menerima gulungan itu dan perlahan membukanya. Sesaat pria itu melihat Sans dan menarik nafas panjang sebelum mulai membaca dia berkata, "Ini peninggalan Empu Bameswara Tirtayasa  ditulis pada masa Khadiri. Tulisan ini memakai Bahasa Jawa Kuno dengan huruf Kuadrat." tentu saja Tuan sudah lupa. "Lupa?" tanya Sans tidak mengerti. "Kala itu, Tuan adalah panglima kami, junjungan kami, panutan kami, juga pengayom kami," jelas pria itu. "Thihita Ka Rana. Itu selalu Tuan ajarkan pada kami," lanjutnya. Dahi Sans mengernyit, dia sama sekali tidak mengerti. Namun, dia menunggu penjelasan pria itu. "Sikap hidup yang seimbang antara memuja Tuhan dengan mengapdi pada sesama manusia serta mengembangkan kasih sayang pada alam dan lingkungan. Jadi selain hidup rukun dengan sesama manusia, masyarakat juga diajarkan rukun dengan alam," itu yang selalu...