Langsung ke konten utama

Mereka Di Mataku

Mereka Di Mataku

Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, saya mengajari anak-anak di lingkungan tempat tinggal saya mulai tahun 2008. Banyak suka dukanya menghadapi anak yang terbiasa hidup bebas tanpa aturan juga tata krama, layaknya anak seumuran mereka yang sebenarnya sudah terlewatkan untuk belajar calistung. 

Terkadang saya merasa lelah saat menghadapi anak yang meminta perhatian lebih dengan cara yang tidak baik. Namun, komitmen saya dari awal memulihkan semangat saya dan bisa kembali menghadapi anak yang super itu. Memang benar pepatang yang mengatakan;

Belajar di waktu kecil bagaikan melukis di kertas kosong
Belajar di saat dewasa bagaikan melukis di atas air

Sangat sulit mengajari mereka yang dari kecil tidak pernah mengenal huruf maupun angka, bahkan terkadang menghafal satu huruf saja memerlukan berhari-hari. Terkadang ada anak yang putus asa kemudian pergi ke hutan mencari buah atau bermain di sungai kecil yang tidak jauh dari rumah saya.

Tidak terasa waktu bergulir dengan cepat dan sudah 13 tahun, saya membuka taman belajar ini. Bahkan anak yang dulu belajar di sini, sekarang sudah memiliki anak dan selanjutnya anak mereka sekarang belajar di sini. 

Dalam kurun 13 tahun, banyak cerita juga kendala yang saya hadapi dalam membimbing anak-anak. Cerita-cerita yang mewarnai pejalanan hidup mereka juga hidup saya. Beberapa anak yang sudah menikah dan mempunyai anak pasti mereka meminta saya untuk mendudik anaknya sementara ia membantu suami mencari nafkah. 

Di lingkungan tempat tinggalku masih banyak yang berpikiran sempit dan melakukan pernikahan dini. Banyak anak yang baru berusia 18 tahun sudah menikah, mungkin larena tidak sekolah makanya umur segitu sudah merasa dewasa. Pernikahan di usia dini mengakibatkan angka perceraian yang tinggi dan yang menjadi korban adalah anak mereka. Maka  tidak mengherankan kalau sebagian anak itu mencari perhatian dengan cara yang kurang tepat.

Diantara mereka yang menjadi korban perceraian membuat ulah  menggemaskan, terkadang ulah mereka juga menyulut emosi saya. Jujur kadang kala saya tidak bisa mengendalikan diri menghadapi polah tingkah beberapa anak dan menghukum dengan cara meminta mereka keluar rumah.  Akan tetapi sering perasaan menyesal datang setelahnya dan kalau sudah begitu untuk menebus rasa bersalah, keesokan harinya saya akan membelikan mereka camilan yang mereka sukai. 

Bahagia rasanya melihat wajah cerah mereka saat menerima kue pemberian dari saya, meskipun harga kue itu tidak seberapa. Namun, bagi mereka mendapatkan kue itu sangat menyenangkan. Melihat mereka makan kue dengan lahap dan wajah ceria, maka rasa bersalah saya akan berkurang.

Meski anak-anak itu sering bertingkah dan mencari perhatian, tetapi mereka tetaplah anak-anak yang masih polos. Mereka tidak menyimpan dendam meskipun sudah dihukum dan dengan semangat mereka datang lagi keesokan hari.

Bagiku membimbing mereka seperti berpetualang, penuh tantangan tapi menyenangkan. Banyak kebahagiaan yang mereka tularkan kepada saya, dengan canda, tawa juga tingkah polah yang lucu-lucu menggemaskan. Bersama mereka saya bisa sedikit mengurangi rasa rindu pada keluarga di kampung halaman jadi tidak ada waktu untuk sendiri disaat anak dan suami tidak di rumah.

Sepertinya sudah banyak yang saya ceritakan tentang perasaan saya terhadap anak-anak itu, maka besok waktunya saya bercerita tentang mereka. Siapa saja mereka, apa kegiatan mereka sebelum dan sesudah pandemi, mengapa mereka belum juga bisa membaca sementara mereka sudah duduk di kelas 3. Banyak cerita yang menarik dibalik wajah lugu dan tingkah menggemaskan mereka, jadi jangan lupa mengunjungi blog saya ini setiap hari. Sampai jumpa esok hari. 


#Balikpapan
#Oprec9
#Tugas_Pekan5




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rahasia Gunung Semeru

Part VII Pria itu menerima gulungan kain dengan hormat, dia juga membungkukkan badannya saat menerima gulungan itu dan perlahan membukanya. Sesaat pria itu melihat Sans dan menarik nafas panjang sebelum mulai membaca dia berkata, "Ini peninggalan Empu Bameswara Tirtayasa  ditulis pada masa Khadiri. Tulisan ini memakai Bahasa Jawa Kuno dengan huruf Kuadrat." tentu saja Tuan sudah lupa. "Lupa?" tanya Sans tidak mengerti. "Kala itu, Tuan adalah panglima kami, junjungan kami, panutan kami, juga pengayom kami," jelas pria itu. "Thihita Ka Rana. Itu selalu Tuan ajarkan pada kami," lanjutnya. Dahi Sans mengernyit, dia sama sekali tidak mengerti. Namun, dia menunggu penjelasan pria itu. "Sikap hidup yang seimbang antara memuja Tuhan dengan mengapdi pada sesama manusia serta mengembangkan kasih sayang pada alam dan lingkungan. Jadi selain hidup rukun dengan sesama manusia, masyarakat juga diajarkan rukun dengan alam," itu yang selalu...
[6/11/2021 20:45] PB Raka Sena: Saya ingin bicara. [6/11/2021 20:45] PB Raka Sena: Saya makin lelah dengan keberadaan saya di penulisan. [6/11/2021 20:45] PB Raka Sena: Jika memang keberadaan saya di penulisan menjadi masalah untuk orang lain, saya akan mundur dengan segera. [6/11/2021 20:47] PB Raka Sena: Terkait siapa pun saya, mohon jangan mencari tahu terlalu banyak. Agama saya, masa lalu saya, status saya rasanya bukan hal penting untuk Teman-teman. Cukup kenali saya sebagai Raka Sena. [6/11/2021 20:47] PB Raka Sena: Jika selama mengenal saya pernah melukai ataupun merugikan Teman-teman, saya mohon maaf. [6/11/2021 20:49] PB Raka Sena: Fabula Publisher bermasalah di hari terakhir pendaftaran. Setelah posting PO kedua Kafaah banyak bermunculan orang-orang yang saya komunikasi pun tidak. [6/11/2021 20:49] PB Raka Sena: Saya merasa tidak merugikan mereka. [6/11/2021 20:50] PB Raka Sena: Fabula Diskusi mengundang member secara terbuka. [6/11/2021 20:50] PB Raka Sena: Saya tidak tahu s...

Panggil Aku Ramadan

Part 2 Seorang ibu duduk dengan terkantuk-kantuk sambil memegang keranjang kecil di pangkuannya. Keranjang berisi sayur-mayur, tahu, tempe, juga sebungkus ikan asin biji nangka. Ibu itu terbangun ketika tib-tiba sopir mengerem secara mendadak. Bahkan keranjang yang dia pegang hampir menindih si anak kecil yang duduk di sebelahnya. Ibu itu menoleh pada anak itu, "Kamu sendirian? Mau ke mana?" tanyanya. "Dari pasar, Cil. Ini mau ke sekolah," jawab anak tersebut.  Empat ibu-ibu naik ke taksi yang mereka tumpangi, salah satunya duduk di sebelah kiri anak tersebut. Sekarang anak itu terjepit diantara dia ibu yang sama-sama memangku bawaan banyak. Sopir taksi kembali melajukan kendaraan. Kali ini sang laju taksi lebih cepat dari sebelumnya.  Jumlah penumpang telah mencapai delapan orang. Bahkan, sekarang taksi telah dipenuhi dengan berbagai macam bawaan penumpang. Bahkan, ada  dua karung bertumpuk di dekat pintu taksi, entah apa isi karung itu. Taksi melaju dengan kencang...