Langsung ke konten utama

Rahasia Gunung Semeru


Rahasia Gunung Semeru

Desa Sumbermujur, Kecamatan Candipuro mengadakan acara Gerbeg Suro. Acara ini diadakan setiap tanggal 1 Muharam sebagai permintaan perlindungan warga kepada Tuhan yang Maha Esa dari segala bencana alam dan sekaligus menyampaikan rasa syukur warga akan limpahan karunia Tuhan berupa tanah yang subur sehingga hasil panen melimpah ruah.

Acara dimulai dengan arak-arakan warga yang membawa hasil panen berkeliling desa dan berakhir di lapangan tempat biasa dilakukan acara-acara adat. Letak lapangan yang ada di tengah hutan bambu membuat suasana sejuk. Hasil penen warga terhampar di panggung di sisi selatan lapangan. 

Diatas panggung selain hasil panen juga tersaji ubo rampen, panggang ayam juga kepala sapi sebagai pelengkap ritual.  Makanan berupa tumpeng nasi kuning lengkap dengan lauk-pauk, memakai wadah tradisional yang dinamakan encek. Encek terbuat dari pelepah pisanh dibentuk kotak persegi, kemudian beberapa bilah bambu ditancapkan dari sisi satu ke sisi lainnya hingga membentuk anyaman lalu dialasi daun jati atau daun pisang. Makanan trasisional memang tampak sederhana, tetapi sangat menggoda. 

Acara adat pun segera dimulai, bambu-bambu bergesekan diterpa angin dan menghasilkan deritan demi deritan, sementara alunan gending pengiring Tarian Oleng mendesak telinga mereka yang hadir, gemulai penari mampu menghipnotis pengunjung dan tanpa berkedip semua mata mengarah ke tengah lapangan. Sementara di salah satu sudut lapangan Penari Jaran Keechak berdiri menunggu giliran tampil.

Tiga pemuda kota yang baru datang dengan santainya mengambil tempat duduk dipinggir lapangan yang terhampar tikar pandan, sambil mendekap rangsel masing-masing. Bahkan tidak menghiraukan permintaan dari anak-anak desa yang memintanya bergeser karena menghalangi pandangan. 

Gending iringan Tari Oling berhenti dan berganti gending rancak mengiringi Jaran Keechak. Tarian berlangsung meriah, tepuk tangan warga bergemuruh saat salah satu penari mendekati seorang pria yang sudah terlihat setengah tua.

Pria itu mengikuti penari ke tengah lapangan, seperti sudah terlatih pria itu mengikuti gerakan tarian tanpa ada  rasa canggung. Sesaat kemudian pria itu merogoh kantong beskap yang dia pakai lalu mengeluarkan sesuatu dan saat itu tiba-tiba gending iringan Jaranan berhenti. Semua yang hadir terdiam baik yang dewasa maupun anak-anak lalu tampak mereka mengangkat kedua tangan mereka tinggi-tinggi.

Melihat hal itu tiga pemuda kota tadi saling pandang, kemudian salah satu dari mereka mengangkat kedua tangannya lalu diikuti kedua temannya dan bersamaan dengan itu sebuah teriakan terdengar.  Teriakan itu ternyata berasal dari pria yang di tengah lapangan tadi. Teriakan itu seperti membaca mantra ritual dalam film-film kerajaan.

Cukup panjang mantra yang dibacakan oleh pria itu dan ketika dia berhenti seketika irama gending terdengar lagi dan penari kembali mengikuti irama. Namun, gerakan Penari Jaranan kini lebih agresif dan terlihat tidak biasa. Tampak warga lebih bersemangat dari sebelumnya dan tidak satupun dari mereka mengalihkan pandangan dari lapangan. 

Juga tiga pemuda kota itu pun seperti terbius oleh suasana dan ikut larut dalam permainan penari. Tarian yang awalnya cepat lambat laun menjadi lamban. Suara gending pun  semakin lirih dan akhirnya berhanti. 

Semua penari meninggalkan lapangan dan bergabung dengan warga lainnya dan di saat itu pria setengah tua yang tadi di tengah lapangan pelan-pelan berjalan berkeliling lapangan.

Saat sampai di hadapan tiga pemuda kota itu, pria tadi berjongkok menatap pemuda yang memakai kaos putih dengan wajah merah padam seperti menahan marah. Lalu pria itu bertanya, "Apa tujuanmu kemari?"

bersambung ....

#oprec9
#tugaspekan6
#cerbungmisteri
#rahasiagunungsemeru


Komentar

Postingan populer dari blog ini

[6/11/2021 20:45] PB Raka Sena: Saya ingin bicara. [6/11/2021 20:45] PB Raka Sena: Saya makin lelah dengan keberadaan saya di penulisan. [6/11/2021 20:45] PB Raka Sena: Jika memang keberadaan saya di penulisan menjadi masalah untuk orang lain, saya akan mundur dengan segera. [6/11/2021 20:47] PB Raka Sena: Terkait siapa pun saya, mohon jangan mencari tahu terlalu banyak. Agama saya, masa lalu saya, status saya rasanya bukan hal penting untuk Teman-teman. Cukup kenali saya sebagai Raka Sena. [6/11/2021 20:47] PB Raka Sena: Jika selama mengenal saya pernah melukai ataupun merugikan Teman-teman, saya mohon maaf. [6/11/2021 20:49] PB Raka Sena: Fabula Publisher bermasalah di hari terakhir pendaftaran. Setelah posting PO kedua Kafaah banyak bermunculan orang-orang yang saya komunikasi pun tidak. [6/11/2021 20:49] PB Raka Sena: Saya merasa tidak merugikan mereka. [6/11/2021 20:50] PB Raka Sena: Fabula Diskusi mengundang member secara terbuka. [6/11/2021 20:50] PB Raka Sena: Saya tidak tahu s...

Rahasia Gunung Semeru

Part VII Pria itu menerima gulungan kain dengan hormat, dia juga membungkukkan badannya saat menerima gulungan itu dan perlahan membukanya. Sesaat pria itu melihat Sans dan menarik nafas panjang sebelum mulai membaca dia berkata, "Ini peninggalan Empu Bameswara Tirtayasa  ditulis pada masa Khadiri. Tulisan ini memakai Bahasa Jawa Kuno dengan huruf Kuadrat." tentu saja Tuan sudah lupa. "Lupa?" tanya Sans tidak mengerti. "Kala itu, Tuan adalah panglima kami, junjungan kami, panutan kami, juga pengayom kami," jelas pria itu. "Thihita Ka Rana. Itu selalu Tuan ajarkan pada kami," lanjutnya. Dahi Sans mengernyit, dia sama sekali tidak mengerti. Namun, dia menunggu penjelasan pria itu. "Sikap hidup yang seimbang antara memuja Tuhan dengan mengapdi pada sesama manusia serta mengembangkan kasih sayang pada alam dan lingkungan. Jadi selain hidup rukun dengan sesama manusia, masyarakat juga diajarkan rukun dengan alam," itu yang selalu...

Rahasia Gunung Semeru

Part VI Sans berjongkok kemudian mengusap kepala salah satu Arca itu lalu berkata lirih, " Arca Arcopodo ." Lama terdiam Sans berfikir di mana dia pernah melihat wajah arca itu karena dia merasa amat  kenal dengan wajah arca itu. Lamunan Sans terhenti saat ada sesuatu bergerak cepat dan melewati. Seperti kayu tapi berkilau dan runcing. Sans terduduk saat terasa ada dorongan keras dari samping kirinya, ketika dia menoleh seorang pria memakai baju tradisional layaknya baju-baju zaman kerajaan. Dengan memakai Baju   Zirah berwarna perak, kain sutra motif kawung melilit di pinggang, sementara  ikat kepala warna keemasaan tampak terpecik warna merah darah. Sans sempat kagum melihat pria gagah di depannya sebelum akhirnya tersadar ada pedang di tangan pria itu.  Pedang itu berlumuran darah, bahkan jemari yang menggenggam pedang  itu juga berlumuran darah. Bau anyir menusuk hidung darah segar itu bahkan masih menetes dari ujung pedang.  Seketika Sans...